Hatsuon (bunyi dalam bahasa jepang)

Artikel ini sudah dimuat dalam jurnal  Fokus  yang diterbitkan oleh jurusan
Pendidikan Bahasa Asing FPBS UPI
Bunyi Bahasa Jepang
Renariah

                    ABSTRAK :

Tulisan ini menguraikan tentang macam-macam bunyi bahasa
Jepang, yang terdiri dari  seion, dakuon,  handakuon,  hatsuon,
sokuon, yoo on dan choo on.
Selain itu, juga dibahas tentang klasifikasi jenis-jenis konsonan,
mora, alat ucap istilahnya dalam bahasa Jepang dan 4 jenis
aksen serta 3 jenis intonasi bahasa Jepang
Kata kunci : hatsuon, aksen dan intonasi


1.  Pendahuluan
Bunyi, ucapan atau pelafalan dalam bahasa Jepang disebut  hatsuon.   Hatsuon
merupakan salah satu karakteristik dari 5 karakteristik lainnya dalam bahasa Jepang yang
dikemukakan oleh Kindaichi, karakteristik lainnya yaitu huruf kanji, kosakata, tatabahasa
dan ungkapan sudah pernah saya paparkan pada edisi - edisi terdahulu dalam jurnal ini.
Hatsuon bahasa Jepang hanya terdiri dari 5 vokal yaitu  “a, i, u, e, o” dan selanjutnya
merupakan silabi / suku  kata yang terdiri dari deretan  “ka, sa ta, na, ha, ma, ya”    dan
“ wa ” serta satu konsonan “ n ”. Selain itu juga terdapat bunyi konsonan rangkap, bunyi
perpaduan huruf dan bunyi panjang.
Setiap bunyi tersebut diatas dihitung dalam 1 ketukan / mora, dalam hal ini Kindaichi
memberi contoh kata “ sakura ” kata tersebut harus dihitung 3 mora yaitu  sa  – ku  – ra,
sedangkan dalam bahasa asing lainnya misalnya dalam bahasa Inggeris,  kata  “Sakura”
pasti akan dihitung 6 mora, yaitu  s-a-k-u-r-a.  Perhitungan mora seperti itu dalam bahasa
Jepang adalah salah. Oleh karena itu hal inilah merupakan salah satu keunikan bahasa yang
sangat berbeda dengan bahasa asing lainnya.
Bunyi bahasa Jepang yang diajarkan di sekolah adalah bunyi / ucapan bahasa Jepang
standar yang mengacu pada ucapan Tokyo, sehingga bunyi / ucapan bahasa Jepang standar
ini dikenal dengan istilah  hyoojungo no hatsuon 標準語の発音 atau disebut juga dengan
istilah tokyono hatsuon 東京の発音
                                                 
Dra. Renariah, M. Hum adalah dosen tetap Program Pendidikan Bahasa Jepang
Universitas Pendidikan Indonesia dan juga dosen luar biasa Jurusan Sastra Jepang
Universitas Kristen Maranatha


2.  Bunyi bahasa Jepang
Bunyi bahasa Jepang yang ditata berdasarkan susunan dalam  gojuonju, yaitu istilah
struktur bunyi bahasa Jepang yang tersusun dalam deretan huruf kana yang berjumlah 46
huruf, memiliki karakteristik tersendiri karena terdiri dari  seion,  dakuon, handakuon,
hatsuon,  sokuon, yoo on dan choo on yang secara rinci dan lengkap dapat di lihat dalam
daftar bunyi berikut :
a. Seion 清音 :
- Vokal :      あ い う え お a   i    u   e   o

- Silabi :      か き く け こ ka  ki  ku  ke  ko
               さ し す せ そ sa  shi  su  se  so
た ち つ て と ta  chi  tsu  te  to
な に ぬ ね の   na   ni   nu  ne  no
は ひ ふ へ ほ   ha   hi   fu  he   ho
ま み む め も   ma  mi  mu  me  mo
や      ゆ      よ   ya       yu       yo
ら り る れ ろ   ra   ri   ru  re   ro
わ        を   wa              wo/o

- Konsonan :  ん                n

b. Dakuon  濁音 :

Istilah dakuon, dalam bahasa Indonesia banyak yang menyebutnya dengan istilah bunyi
gesek, bunyi ini hanya terdapat dalam deretan “ ka, sa, ta, ha ” saja yang masing-masing
bunyi –nya berubah menjadi “ ga, za, da dan ba ”.
Dalam huruf kana dilambangkan dengan tanda dua garis ke kanan di atas huruf kana-nya.
   Secara lengkap deretan bunyi dakuon adalah sebagai berikut :
    が ぎ ぐ げ ご  Ga  gi  gu ge  go
       ざ じ ず ぜ ぞ  Za  ji  zu  ze  zo
    だ じ づ で ど  Da ji du de  do
    ば び ぶ べ ぼ  Ba  bi  bu be bo

c. Handakuon 半濁音 :

Istilah  handakuon, dalam bahasa Indonesia disebut  juga dengan istilah bunyi letus.
Bunyi ini hanya terdapat dalam deretan “ ha ” saja.
   Bunyi  - bunyi ini dalam huruf kana dilambangkan dengan tanda bulat  di atas kanan huruf
kana-nya.
   Secara lengkap deretan bunyi handakuon adalah sebagai berikut :
ぱ ぴ ぷ ぺ ぽ   Pa  pi  pu  pe  pod. Hatsuon 撥音
   Bunyi konsonan “N” ini selain disebut hatsuon  (撥音), disebut juga tokushu na onso
(特殊な音素)karena konsonan “N” dalam pelafalannya mengalami 3 perubahan bunyi,
yaitu :

(1). Konsonan “ N ” diucapkan “ N ”, apabila huruf berikutnya setalah huruf  “ N ” adalah
huruf  “ n, s, t ” dan “ d  ”
Contoh :  
さんにん Sannin harus diucapkan Sannin = 3 orang
   せんせい Sensei  harus diucapkan Sensei   =  guru/dosen
          でんとう Dentoo harus diucapkan  Dentoo =  lampu
          はんだん Handan harus diucapkan  Handan  =  pertimbangan

(2). Konsonan “ N ” diucapkan “ M ”, apabila huruf berikutnya setalah huruf  “ N ” adalah
“p, b” dan “m”
Contoh : 
 えんぴつ enpitsu harus diucapkan empitsu  =  pinsil
    しんぶん shinbun harus diucapkan shimbun  =  koran
    よんまい yonmai harus diucapkan yommai  =  4 lembar

(3). Konsonan “ N ” diucapkan “ Ng ”, apabila huruf berikutnya setelah huruf “ N ” adalah
“ k, g ” dan  konsonan “ N ” terletak di akhir kata
    Contoh :  
けんがく kengaku harus diucapkan kenggaku    = karyawisata
だいがくいん daigakuin harus diucapkan daigakuing  =  pasca sarjana
      りんご ringo harus diucapkan ringgo       =  apel

e. Sokuon 促音 :

istilah  sokuon, dalam bahasa Indonesia disebut  juga dengan konsonan
rangkap atau konsonan ganda.
Bunyi konsonan rangkap dalam bahasa Jepang hanya ada 4 yaitu konsonan rangkap pp,
ss, kk dan tt.
Konsonan rangkap ini tidak terdapat dalam huruf Jepang tersusun dalam gojuonju, tetapi
pada kenyataannya dalam bahasa Jepang terdapat kosakata yang mempunyai bunyi
konsonan rangkap, oleh karena itu untuk dapat mengucapkan bunyi konsonan rangkap
diperlukan bantuan 1 huruf kana yaitu huruf “ tsu ” dalam bentuk ukuran kecil, bila kita
posisikan maka ukurannya ditulis kira-kira sebesar seperempat dari bentuk huruf  kana
biasa.
Huruf “tsu” kecil hanya membantu merangkapkan 4 konsonan yang mengikuti
bunyi huruf kana berikutnya yaitu p, s, k dan t.
Contoh :  らっぱ rappa  (terompet)
ざっし zasshi  (majalah)がっき  gakki (alat musik)
きって kitte   (perangko)

f. Yoo on 拗音

    Bunyi ini terbentuk dari perpaduan 2 huruf kana menjadi 1 bunyi, dengan cara semua
deretan bunyi huruf “ i ” yaitu semua dari huruf  “ ki, shi, chi, ni, hi, mi, ri, gi, ji, hi, pi ”
digabungkan dengan huruf “ya, yu dan yo” bentukya kecil, ukurannya juga sama dengan
huruf  “ tsu  ” kecil, yaitu kira-kira seperempat dari bentuk huruf  biasa, huruf-huruf
tersebut meskipun huruf-huruf tersebut masih berbentuk perpaduan silabi tetapi diucapkan

1 bunyi dan dihitung 1 mora.
Secara rinci dan lengkapnya dapat dilihat dalam susunan sebagai berikut :
きゃ きゅ きょ    kya  kyu  kyo
しゃ しゅ しょ    sha  shu  sho
ちゃ ちゅ ちょ    cha  chu  cho
にゃ にゅ にょ    nya  nyu  nyo
ひゃ ひゅ ひょ    hya  hyu  hyo
みゃ みゅ みょ   mya  myu  myo
りゃ りゅ りょ   rya   ryu   ryo
ぎゃ ぎゅ ぎょ   gya   gyu   gyo
じゃ じゅ じょ   ja     ju    jo
びゃ びゅ びょ   bya   byu   byo
ぴゃ ぴゅ ぴょ   pya   pyu   pyo

g. Choo on 長音

Dalam kosakata bahasa Jepang terdapat bunyi panjang dan bunyi pendek.
Bunyi panjang dalam bahasa Jepang disebut Choo on.
Bunyi panjang bila diucapkan pendek maka artinya akan sangat berbeda sekali.
Contoh : obasan dan obaasan
Obasan artinya tante, bibi, sedangkan obaasan artinya nenek.
Setiap bunyi panjang dihitung 1 mora dari setiap silabi dan hal ini  berlaku untuk
semua silabi, cara memperpanjang bunyi adalah dengan dibantu oleh vokal dari setiap
deretan yang bersangkutan, yaitu :
- semua deretan “ A ” meliputi bunyi “ka, sa, ta, na ha, ma, ya, ra, wa, ga, za, da, ba, pa,
diperpanjang dengan dibantu oleh 1 bunyi “a ”
Contoh : おかあさん okaasan = ibu orang lain
さあ     saa      = ayo
おばあさん obaasan = nenek orang lain

- semua deretan  “ i  ” meliputi  “ki, shi, chi, ni hi, mi, ri, gi, ji, bi dan pi” diperpanjang
dengan dibantu oleh 1 bunyi diperpanjang dengan dibantu oleh huruf  “ i  ”  Contoh :  おじいさん    ojiisan =  kakek orang lain
          おにいさん oniisan =  kakak laki-laki orang lain

- semua deretan U meliputi “ku, su, tsu, nu, fu, mu, yu, ru, gu, ju, bu , pu” dan juga deretan
u dari yoo on meliputi kyu, shu, chu, nyu, hyu, myu, ryu ” diperpanjang dengan dibantu
oleh 1 bunyi yang diperpanjang oleh huruf  “ U  ”
Contoh :  くうき      kuuki =  udara
         きゅうよう kyuuji  =  keperluan mendadak

- semua deretan E meliputi  “ke, se, te, ne he, me, re, ge, de, be dan pe” diperpanjang
dengan dibantu oleh 1 bunyi, diperpanjang dengan dibantu oleh huruf  “i ”, kecuali untuk
kata oneesan dan ee dibantu oleh “ E ”
Contoh :   とけい     tokei  =  jam
          せんせい   Sensei =  guru / dosen
kecuali : おねえさん oneesan = kakak perempuan orang lain
          え       ee      = ya

- semua deretan “ O ” meliputi “ ko, so, to, no, ho, mo, yo, ro, go, jo, bo , po ” dan juga
deretan “ o ” dari yoo on meliputi “ kyo, sho, cho, nyo, hyo, myo, ryo ” diperpanjang 1
bunyi dengan dibantu oleh huruf  “ U  ” , meskipun diperpanjang dengan huruf “ U ” tapi
bunyi panjang tersebut tetap diucapkan “ O ”

Contoh :  おとうさん otoosan    = ayah orang lain
          こうじょう koojoo   =  pabrik
          きょうしつ kyooshitsu  = kelas
    
Selain itu, terdapat pula perpanjangan bunyi O yang diperpanjangan dengan huruf O, dan
hal ini merupakan pengecualian. Kosakata yang menjadi pengecualian tersebut jumlahnya
sedikit sekali, kira-kira ada 10 yaitu :
(1)おおきい Ookii  =  besar,
(2)おおい ooi  =  banyak,
(3)おおやけ ooyake  =  umum,
(4)こおり  koori  =  es batu,
(5)こおろぎ  koorogi  =  jangkrik,
(6)とおる tooru    =  melewati,
(7)おおさか oosaka   =  osaka, nama tempat di Jepang,
(8)とお     too   =  10,
(9)とおか     tooka    =  tgl. 10,
(10) おおかみ  ookami  =  serigala
Sementara itu, Suzuki (1991) mengemukakan bahwa bunyi bahasa Jepang dapat
diklasifikasikan dalam 3 kelompok bunyi yaitu :
1. Bunyi hidup      母音
ぼ い ん
2. bunyi konsonan   子音
し い ん
yang di dalamnya meliputi 5 jenis bunyi konsonan yaitu :

a. Bunyi hambatan  破裂音
は れ つ お ん
yang termasuk dalam kelompok ini adalah bunyi ka ki ku ke ko, ga gi gu ge go,
da de do, ba bi bu be bo, pa pi pu pe po

b. Bunyi desis 摩擦音
ま さ つ お ん
yang termasuk dalam kelompok ini adalah bunyi sa shi su se so ha hi fu he ho dan za
ji zu ze zo

c. Kombinasi bunyi desis dan hambatan  破擦音
やぶさつおん
    yang termasuk dalam kelompok ini adalah chi dan tsu

d. Bunyi sengau      鼻音
び お ん
yang termasuk dalam kelompok ini adalah  nga ngi ngu nge ngo, na ni nu ne
no dan ma mi  mu me mo

e. Bunyi jentikan    はじき音
yang termasuk dalam kelompok ini adalah ra ri ru re ro

3. Bunyi semi vokal わたり音
 yang termasuk dalam kelompok ini adalah ya, yu, yo dan wa
Di sisi lain, Kato (1991 : 28, dalam Dahidi dan Sudjianto) memaparkan tentang klasifikasi
konsonan berdasarkan jenis hambatan, rintangan, halangan udara yang masuk melalui alat ucap

membentuk 6 macam konsonan sebagai berikut :
1. bilabial (ryooshin on), yang termasuk dalam kelompok ini adalah konsonan sukukata ma mi

mu me mo, pa pi pu pe po dan ba bi bu be bo
2. Dental alveolar (Shikeion), yang termasuk dalam kelompok ini adalah konsonan sukukata sa

su se so, za zu ze zo, ra ri ru re ro, na nu ne no, ta tsu te to dan da de do
3. Alveolar palatal (Shikei kookoogaion), yang termasuk dalam kelompok ini adalah konsonan
sukukata shi, ji dan chi

4. Palatal (kookogaion) konsonan sukukata yang termasuk dalam kelompok ini adalah sukukata
hi dan ni

5. Velar (velar) konsonan sukukata yang termasuk dalam kelompok ini adalah ka, ga, nga dan n

6. Glotal (seimon’on),  konsonan sukukata yang termasuk dalam kelompok ini adalah ha he ho

3.  Alat  Ucap  音声
おんせい
器官
き か ん
Untuk dapat mengucapkan macam-macam bunyi bahasa Jepang seperti yang telah
diuraikan dalam bagian tentang bunyi bahasa Jepang dalam tulisan ini, perlu kiranya kita
mengenal dan memahami macam-macam alat ucap yang sangat berperan dalam
mengahasilkan bunyi bunyi yang beraneka macam, maka dalam bagian ini saya akan
memperkenalkannya dan istilahnya dalam bahasa Jepang yang  dikemukakan oleh Kawase
dkk.
Suzuki (1991 : 6) memaparkan alat ucap terdiri dari 20 bagian yaitu :
1. lidah bagian tengah 〔中舌面
なかしためん
〕2. lidah bagian depan (前舌面
まえしためん
3. langit –langit (硬
こう
口蓋
こうがい
4. gusi ( 歯茎
は ぐ き
)
5. bibir (口唇
こうしん
6. gigi (歯
7. ujung lidah(舌先
したさき
8. rahang bawah(下顎
したあご
9. pita suara(声帯
せいたい
10. saluran nafas(気管
き か ん
11. rongga hidung(鼻腔
び こ う
12. anak tekak(口蓋
こうがい
はん
13. langit-langit lunak(軟口蓋
やわこうがい
14. rongga mulut (口腔
こうこう
15. kerongkongan (咽頭
いんとう
16. lidah bagian dalam (後舌面
あとしためん
17. pangkal lidah (舌根
ぜっこん
18. lidah (舌
した
19. tengkorokan (喉頭
こうとう
20. celah suara (声門
せいもん

4.  Mora 拍

Di dalam bahasa Jepang digunakan huruf kana dan kanji, setiap huruf tersebut diucapkan
satu bunyi.  Setiap huruf, baik itu vokal maupun konsonan yang berupa silabi semuanya diucapkan
1 mora, hal ini berlaku pula dengan konsonan rangkap, bunyi panjang dan huruf rangkap.
Kindaichi (1992) menjelaskan bahwa dalam bahasa Jepang setiap huruf yang diucapkan
dihitung 1 mora, beliau memberi contoh kata : “ sakura ” dan “ ringo ”.
kata “ sakura ” terdapat 3 mora, karena bahasa Jepang adalah konsonan yang berupa silabi maka
untuk  kata sakura harus dihitung menjadi sa- ku- ra, bukan s-a-k-u-ra. begitu pula dalam kata
“ringo” terdapat 4 mora yaitu ri-n-go.
Hal inipun berlaku dalam bunyi konsonan rangkap, huruf rangkap maupun bunyi panjang,
sehingga secara keseluruhan ucapan bahasa Jepang memiliki 111 mora.
Contoh :  okyakusama, terdiri dari 4 mora yaitu kya-ku-sa-ma
         Roppyaku, terdiri dari 4 mora yaitu ro-p-pya-ku
         Imootosan, terdiri dari 6 mora yaitu I-mo-o-to-sa-n

5. Aksen  dan  Intonasi

Dalam bahasa Jepang, aksen maupun intonasi mempunyai peranan yang sangat penting karena masing-masing mempunyai fungsi yang berbeda dalam memberikan makna dalam
sebuah kata maupun kalimat, sehingga pengertian aksen dan intonasi harus dibedakan
dengan jelas.
Iwabuchi (1989 : 15, dalam Sudjianto dan Dahidi) mendefinisikan aksen adalah
penempatan dan pengaturan tinggi rendah ucapan terhadap satu kata, sedangkan intonasi
adalah bunyi ucapan sebagai aksen dalam setiap kalimat.
Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Suzuki  (1991 : 24) menjelaskan bahwa aksen
dalam bahasa asing lainnya adalah menekankan pada kuat dan lemahnya ucapan, tetapi
tidak demikian dengan aksen di dalam bahasa Jepang.
Aksen bahasa Jepang tidak mengenal adanya ucapan dengan nada kuat dan lemah sebagai
aksen,tetapi lebih menekankan pada tinggi dan rendahnya nada.
Aksen dalam bahasa Jepang hanya memiliki 2 jenis nada yaitu menekankan pada nada
tinggi dan nada rendah.
Mungkin para pembelajar bahasa Jepang maupun orang  - orang yang berkecimpung
dalam bahasa Jepang sering mendengar adanya ucapan yang kuat dalam suatu kata bahasa
Jepang, hal tersebut bukanlah aksen dari kata tersebut melainkan ucapan kata tersebut
merupakan hal yang ingin dipentingkan oleh pembicara, disebut prominen.
Selanjutnya Suzuki (1991 : 46) menjelaskan bahwa aksen bahasa Jepang dapat
diklasifikasikan dalam 4 jenis dan intonasi diklasifikasikan dalam 3 jenis. Adapun 4 jenis
aksen bahasa Jepang adalah sebagai berikut :
① Jenis Heiban, bentuk Heiban  平板式平板型 :
Jenis aksen ini  menekankan hanya pada silabi pertama saja diucapkan dengan
nada rendah, dan silabi berikutnya diucapkan dengan nada tinggi.
Contoh : suika ga      (semangka)
          murasakiiro ga  (warna ungu)

② Jenis  Kifuku, bentuk Odaka  起伏尾高型 :
Jenis aksen inipun sama dengan jenis heiban, tetapi bilamana kosakata sudah
ditambahkan dengan kata bantu ga maka kata bantu dari kosakata tersebut
diucapkan dengan nada rendah
Contoh :  oshogatsu ga  (tahun baru)
         Imooto ga    (adik perempuan)

③ Jenis Kifuku, bentuk Nakadaka 起伏中高型 :
Jenis aksen ini silabi pertama diucapkan dengan nada rendah, bagian tengah
diucapkan dengan nada tinggi dan bagian berikutnya kembali diucapkan dengan
nada rendah.
Contoh :  natsuyasumi ga   (liburan musim panas)
         Okaasan ga      (ibu orang lain)

④ Jenis Kifuku, bentuk Atamadaka 起伏頭高型 :
Jenis aksen ini merupakan kebalikan dari aksen jenis  heiban bentuk heibanyaitu silabi pertama diucapkan dengan nada tinggi dan berikutnya        
diucapkan dengan nada rendah
      Contoh :  sangatsu ga (bulan Maret)
Midori ga (warna hijau)
Setelah kita memahami 4 jenis aksen bahasa Jepang, marilah kita perhatikan 3 jenis
intonasi dalam bahasa Jepang.

Adapun 3 jenis intonasi bahasa Jepang adalah sebagai berikut :
① Intonasi mendatar, digunakan untuk menyatakan suatu pernyataan menyampaikan
sesuatu hal, biasanya intonasi ini banyak kita dengar dan kita gunakan dalam kalimat
berita.
Contoh :  Ashita ichijini shuppatsu shimasu.

② Intonasi menurun, digunakan untuk memastikan sesuatu hal.
Contoh :  Ichiji desune.

③ Intonasi meninggi, digunakan untuk menanyakan sesuatu, intonasi ini banyak kita dengar
dan kita gunakan dalam kalimat tanya.

Contoh :  Kore wa ikura desuka

Seperti kita ketahui bersama bahwa di dalam bahasa Jepang terdapat banyak sekali
kosakata yang memiliki bunyi yang sama, tetapi artinya berlainan. Hal tersebut dapat kita
bedakan dari kanji yang digunakan, akan tetapi apabila dalam percakapan, kita tidak
menggunakan kanji tetapi kosakata yang dimaksud pembicara dapat kita pahami dengan
baik dari aksen yang diucapkan pembicara..

Contoh : Ame mempunyai 2 arti, yaitu hujan dan permen
        - Ame 雨 yang memiliki arti hujan diucapkan dengan aksen silabi  pertama
diucapkan dengan nada tinggi dan silabi kedua diucapkan dengan nada
rendah.
        - Ame  飴 yang memiliki arti permen diucapkan dengan aksen sebaliknya yaitu
silabi pertama diucapkan dengan nada rendah dan silabi kedua diucapkan
dengan nada tinggi.

6.  Kesimpulan

a.  Suatu keunikan dari bunyi bahasa Jepang adalah memiliki struktur berikut :
-  vokal  :  5 bunyi terdiri dari a, i , u, e ,o
- konsonan dari seion berupa suku kata / silabi : KV (= Konsonan Vokal )  berjumlah
35 bunyi dari deretan “ ka, sa, ta, na, ha, ma , ra ”
- konsonan dari  dakuon juga berupa suku kata / silabi : KV (= Konsonan Vokal )
berjumlah 20 bunyi dari deretan “ ga, za, da, ba ”
- konsonan dari handakuon juga berupa suku kata / silabi : KV (= Konsonan Vokal )  hanya berjumlah 5 bunyi dari deretan “ pa ”
- Konsonan yang berupa SVV (Semi Vokal dan Vokal) jumlahnya hanya ada 2 yaitu
bunyi “ ya dan wa ”
- K (Konsonan) : “ n ”
- KSVV (Konsonan, Semi Vokal dan Vokal) berupa :
① Konsonan gabung dari seion berjumlah 21 bunyi dari deretan “ kya, sha, cha,
nya, hya, mya, rya”
② Konsonan gabung dari  dakuon berjumlah 15 bunyi dari deretan  “ gya, ja,
bya ”
③ Konsonan gabung dari handakuon berjumlah 5 bunyi dari deretan “ pya ”.

b.  Bunyi pendek dan bunyi panjang harus diucapkan dengan tepat, karena hal tersebut
mempunyai arti yang berbeda.

c.  Pada dasarnya aksen bahasa Jepang menekankan pada nada rendah dan nada tinggi.

d.  Aksen dalam bahasa Jepang ada 4 jenis yaitu jenis  Heiban bentuk Heiban, jenis Kifuku
bentuk  Okada,  Nakadaka dan  Atamadaka yang masing-masing mempunyai ciri
tersendiri.

e.  Setiap bunyi dalam bahasa Jepang baik vokal maupun konsonan yang berupa silabi harus
dihitung satu mora

DAFTAR PUSTAKA
天沼寧、 1990 『日本語音声学』 くろしろ出版
今田滋子 1991 『発音』教師用日本語教育ハンドブック⑥ 国際交流基金
金田一春彦 1992 『日本語の特質』教育テレビ NHK
鈴木忍 1991 『発音』国際交流基金 東京
土岐哲 1987 『発音・聴解』外国人のための日本語例文・問題シリーズ ⑫
                    荒竹出版
Sudjianto Drs., M.Hum dan Dahidi Ahmad Drs., MA   2004  Pengantar Linguistik Bahasa Jepang.
Oriental Jakarta

0 komentar:

Poskan Komentar