Lesson 7

1. saya suka ... ~
watashi ha  .. . . .. ga suki desu.
わたしは ~ が すきです・
Subjek ~ ga suki desu.
例:
saya suka berolah-raga. =  わたし は スポーツ が すきです。
Watashi ha supo-tsu ga suki desu.

2.  ~ は ~ が じょうずです。
Subjek ha ~  ga jyouzu desu.
subjek pandai ........~
例:
Karina san pandai memasak =  カリナさん は りょうり が じょうずです。
Karina san ha ryouri ga jyouzu desu.

3. subjek mengerti ..... ~
 ~ は ~ が わかります。
SUbjek ha ~ ga wakarimasu.
例:
Saya mengerti huruf hiragana= わたし は ひらがな が わかります。
Watashi ha hiragana ga wakarimasu.

4. subjek punya/memiliki ~
~ は ~ が あります。
Subjek ~ Ga ~ arimasu.
例:
Rina memiliki/punya kamera baru= リナさん は あたらしい カメラ が あります。
Rina san ha atarashii kamera ga arimasu.

5. karena ~ , tidak pergi kemanapun.
~ です/ます から、 どこ も いきません。
~ Desu/masu kara, doko mo ikimasen.
例:
Karena sibuk , tidak pergi kemanapun. = いそがしいですから、どこ も いきません。
Isogashii desukara, doko mo ikimasen.

Karena ada pekerjaan, Tidak pergi kemanapun =  しごと が ありますから、どこ も いきません。
Shigoto ga arimasukara, doko mo ikimasen.

KOSA KATA :

Eiga : film : えいが
Supo-tsu : olah raga/ sport : スポーツ
uta : lagu/nyanyi :うた
ryouri : masak : りょうり
nihongo : bahasa jepang : にほんご
hiragana : huruf hiragana : ひらがな
kanji : huruf kanji : かんじ
kuruma : mobil/kendaraan : くるま
yakusoku : janji : やくそく
youji : urusan : ようじ
jikan ga arimasen : tidak ada waktu : じかん が ありません。

Selamat mencoba ~

2 komentar:

Posting Komentar

Shakuhachi (Alat musik tradisional jepang)

Seputar alat musik SHAKUHACHI
Model SHAKUHACHI (seruling Jepang) yang dikenal masyarakat saat ini disebut “FUKESHAKUHACHI”, berasal dari zaman pertengahan era KAMAKURA. Pada zaman tersebut seorang biksu ZEN bernama Kakushin, belajar di negeri Cina dan mempelajari lagu SHAKUHACHI untuk menyampaikan ajaran FUKE, guru agama Budha aliran ZEN. Kakushin mempelajarinya dari seorang guru Cina, CHOSHIN, dan membawa pulang lagu dan alat musiknya ke Jepang. Sejak itu SHAKUHACHI digunakan sebagai alat penyebaran agama oleh biksu-biksu aliran HOTTOHA RINZAISHU, salah satu bagian dari aliran ZEN. Dari sejarah ini juga bisa diketahui bahwa semua lagu klasik SHAKUHACHI yang disebut “SHAKUHACHI KOTEN HONKYOKU (lagu klasik khusus SHAKUHACHI)” memuat ajaran agama Budha Zen. Ukuran panjang FUKE-CHAKUHACHI adalah kurang-lebih 54cm atau dalam satuan ukuran tradisional Jepang,1 SHAKU 8 SUN. Namun akhir-akhir ini ukuran panjang SHAKUHACHI bervariasi dan nada dasar ditentukan berdasarkan ukuran panjang tersebut.
SHAKUHACHI dibuat dari bambu, di bagian dekat akar, dengan diameter 3.5cm-4,0cm. Ada 5 lubang, 4 di bagian depan dan 1 di bagian belakang. Sisi dalam SHAKUHACHI digosok sampai halus, bahkan belakangan ini bagian dalamnya diolesi SHU-URUSHI (bahan pewarna alam berwarna merah) atau KURO-URUSHI (bahan pewarna alam yang berwarna hitam), agar menghasilkan suara yang halus dan indah. Dulu, bagian mulut SHAKUHACHI dipotong menyerong, tetapi sekarang pada bagian mulut dipasangi tanduk rusa atau kerbau supaya lebih kokoh. SHAKUHACHI merupakan seruling yang dapat menghasilkan warna suara yang bervariasi dan nada suara yang paling sensitif di antara seruling tradisional Jepang, baik seruling tiup samping (horizontal) maupun seruling tiup depan (vertikal). Oleh karena ciri khas itu SHAKUHACHI mempunyai posisi tersendiri di dalam alat musik tradisional Jepang.
 
 
cd : wikipedia

0 komentar:

Posting Komentar

KOTO (Alat musik tradisional Jepang)

Tentang sejarah KOTO
KOTO adalah alat musik yang menyerupai kecapi di Indonesia, disebutkan masuk ke Jepang sejak abad ke-7. Di masa itu, KOTO dimainkan sebagai salah satu bagian musik Istana. Formasi KOTO yang dimainkan sebagai alat musik tunggal, tanpa iringan alat musik lain, menjadi populer di masyarakat sejak abad 17. Pada abad 17 lahir maestro KOTO dan pencipta “HACHIDAN”(delapan babak)”dan “MIDARE” (lagu berirama lepas) YATSUHASHI KENGYO. Ia menciptakan pakem dasar untuk SOKYOKU (lagu-lagu KOTO).
Pada dasarnya musik tradisional Jepang memiliki 5 tangga nada, kurang 2 tangga nada dibandingkan dengan musik barat yang mempunyai 7 tangga nada “do re mi fa so la si”. Namun, musik Jepang tradisional juga menyerap beragam tangga nada lainnya sehingga menghasilkan irama yang sangat berbelit. Dasar-dasar musik istana atau musik aristokrat diciptakan dengan menggunakan nada “do re mi so la” atau “re mi so la si”. Cara ini disebut “YO-ONKAI” yang memiliki nada yang relatif riang. Sedangkan YATSUHASHI KENGYO membuat “HIRAJOSHI” atau nada datar yang di dalam tangga nadanya menggunakan “mi fa la si do” yang di antaranya ada semitone sebagai nada dasar. Nada ini disebut “IN-ONKAI” yang lebih sendu dan menggugah emosi sehingga masyarakat Jepang di jaman itu kerap terharu mendengarkan nada ini. Setelah YATSUHASHI KENGYO memperkenalkan “HIRAJOSHI”, SOKYOKU sangat berkembang dan dicintai sehingga diakui sebagai musik rakyat Jepang.
YATSUHASHI KENGYO bisa disebut sebagai pencipta SOKYOKU dan meninggal dunia pada tahun 1685. Jika kita menengok ke negara barat, Bach, yang dikenal sebagai pencipta musik barat lahir pada tahun saat YATSUHASHI KENGYO meninggal.
Seputar alat musik KOTO
Bagian badan terbuat dari “KIRI” atau kayu paulownia yang dilubangi bagian dalamnya. KOTO memiliki 13 dawai. Karena KOTO menggunakan 5 tangga nada maka dengan 13 dawai biasanya KOTO dapat menghasilkan sekitar 2.5 oktaf. Antara bagian badan dan dawai ada “JI” sebagai penyangga dawai. Jika “JI’ digeser maka hasil suara pun berubah. Mengatur nada (tuning), yang merupakan persiapan dasar untuk permainan Koto, juga dilakukan dengan menggeser posisi “JI”. Selain “HIRAJOSHI”, ada berbagai aturan nada(tuning) yang dikembangkan dari “HIRAJOSHI”.
Dengan menggunakan tangan kiri yang menekan dan menarik dawai, tangga nada dapat berubah atau pun menghasilkan suara bernuansa vibrato. Pada awalnya dawai dibuat dari sutera, tetapi zaman sekarang dawai juga menggunakan bahan lain seperti bahan sintetis. Pemain dapat menggunakan “TSUME” atau kuku palsu untuk 3 jari di tangan kanan. Pada dasarnya KOTO dimainkan dengan menggunakan “TSUME” yang terkadang digunakan pada jari lain atau pun pada jari-jari di tangan kiri. Di dalam lagu SOKYOKU terkadang ada juga suara nyanyian.
KOTO memang dimainkan bukan untuk mengiringi nyanyian, tetapi suara nyanyian juga dianggap sebagai salah satu jenis alat musik. Dalam artian, alat musik dan suara sama-sama dianggap berperan penting untuk menghasilkan musik. Di Jepang, sejak zaman dahulu hingga saat ini KOTO sering diibaratkan sebagai “RYU” atau “Naga” sehingga bagian-bagian alat musik ini juga dinamai “RYUKAKU” (tanduk Naga), “RYUKOU” (mulut Naga), “RYUBI” (ekor Naga), dll. Di berbagai negara di Asia, naga dihormati seperti dewa dan dianggap sebagai mahluk mitos spiritual tinggi. Dengan demikian bisa dibayangkan bila KOTO juga sangat dicintai oleh masyarakat Jepang.
   
credit to : Japan Foundation

0 komentar:

Posting Komentar

ENKA

Enka (演歌) adalah salah satu genre musik pop Jepang berupa balada bernada sentimental yang secara unik mengekspresikan luapan perasaan orang Jepang. Penyanyi enka menyanyikan lagu menggunakan teknik menyanyi yang disebut melisma. Penyanyi enka sebagian besar mengenakan kimono walaupun tidak sedikit penyanyi enka yang mengenakan pakaian ala Barat.
Dengan aksara kanji, ada dua cara untuk menuliskan kata enka sesuai dengan lirik atau cara menyanyikan lagu. Istilah enka (艶歌) dipakai untuk menyebut lagu percintaan yang romantis, sementara istilah enka (怨歌) dipakai untuk menyebut lagu bernada kecewa karena patah hati.
Ciri khas
Sebagian besar tangga nada enka merupakan tangga nada pentatonik yang sudah sejak dulu digunakan di Jepang untuk lagu rakyat yang disebut minyō (民謡). Nada ke-4 dan nada ke-7 dari tangga nada diatonik musik Barat sering tidak dikenal dalam enka. Dalam bahasa Jepang, perubahan tangga nada diatonis menjadi pentatonis dengan menghilangkan nada ke-4 dan nada ke-7 disebut yonanuki onkai (ヨナ抜き音階). Tangga nada khas enka yang tidak mengenal nada ke-4 dan nada ke-7 juga disebut Melodi Koga karena pertama kali digunakan oleh komposer Koga Masao.
Misora Hibari adalah penyanyi enka dari tahun 1960-an yang menyempurnakan cara bernyanyi dengan tangga nada Melodi Koga. Teknik bernyanyi ala Misora Hibari nantinya dijadikan standar dalam menyanyikan lagu-lagu enka. Lagu-lagu Misora Hibari banyak yang menjadi terkenal, di antaranya: "Kanashii sake", "Yawara", dan "Kawa no Nagare no yōni."
Lagu enka sering mengangkat tema-tema seperti perpisahan, lautpelabuhankereta api senjasakeair matawanitahujan, dan salju. Liriknya hampir selalu berkaitan dengan patah hati atau kesedihan akibat cinta yang tidak mudah terlupakan. Maksudnya agar pendengar musik enka merasa senasib dan menjadi terhibur. Selain kesedihan akibat cinta, lagu enka juga kadang-kadang memakai tema-tema lain seperti kebahagian rumah tangga, hubungan kekeluargaan (ibu, kakak-beradik, anak perempuan, cucu), keindahan alam (gunungsungai). dan pejudi pengembara.

Sejarah

Enka berawal dari seni bercerita di muka umum yanng merupakan sarana mengemukakan pendapat untuk mengkritik pemerintah lokal. Setelah pidato bernada kritik dilarang pada akhirabad ke-19, pidato disamarkan dalam bentuk lirik lagu bernada protes. Musik pengiringnya disebut enka, dan ditulis dengan aksara kanji (演歌) yang secara harfiah berarti lagu pidato, dari kata en (, pidato) dan ka (, lagu). Definisi enka sebagai lagu bernada protes mulai hilang ternyata tidak bertahan lama. Sejak pertengahan hingga akhir zaman Meiji, lirik lagu enka mulai digantikan dengan tema-tema baru yang sentimentil dan berhubungan dengan kehidupan sehari-hari.
Pencipta lagu enka yang dipengaruhi musik Barat mulai bermunculan pada zaman TaishoTottori Shunyō yang merintis kariernya sebagai pemusik jalanan adalah salah seorang komposer enka asal zaman Taisho. Setelah ditemukannya teknologi rekaman suara, perusahaan rekaman asing mulai bermunculan di Jepang pada zaman Showa. Penyanyi enka asalzaman Showa misalnya Yoshie FujiwaraChiyoko SatōTeiichi FutamuraIchirō Fujiwara, dan Noriko Awaya.
Seusai Perang Dunia II, sekitar tahun 1955 bermunculan penyanyi enka seperti Hachirō KasugaMichiya Mihashi, dan Chiyoko Shimakura. Sekitar awal tahun 1960-an bermunculan penyanyi enka seperti Saburō Kitajima dan Harumi Miyako. Selanjutnya, Kiyoko SuijenziShinichi Mori, dan Hiroshi Itsuki mulai dikenal sekitar pertengahan tahun 1960-an. Pada waktu yang hampir bersamaan, penyanyi lagu pop Barat dari perusahaan hiburan Watanabe Entertainment juga sedang berada di puncak kepopuleran. Oleh karena itu, istilah enka mulai dipakai untuk lagu pop Jepang yang memakai tangga nada minus nada ke-4 dan nada ke-7 dan teknik bernyanyi dan melisma yang "khas enka". Maksudnya untuk membedakan jenis musik ini dari musik pop Barat.
Tema lagu enka juga berubah menjadi luapan emosi yang berkaitan dengan hubungan antara pria dan wanita. Sementara itu, kritik untuk pemerintah disalurkan lewat musik yang disebutlagu folk (folksong). Di tengah kepopuleran folksong dan groupsound, enka sempat ditinggalkan penggemar musik di Jepang. Kepopuleran karaoke pada pertengahan tahun 1970-an dan bermunculannya penyanyi idol remaja dengan kemampuan bernyanyi yang minimal menjadi awal kebangkitan kembali enka di Jepang. Pada waktu itu, lagu-lagu enka banyak yang menjadi populer di kalangan pendengar berusia setengah umur, namun sekaligus dijauhi penggemar musik berusia muda. Musik enka akhirnya hanya dibuat untuk konsumsi penggemar musik berusia lanjut. Akibatnya enka mengalamu masa-masa surut, dan penyanyi enka banyak yang mengundurkan diri pada akhir tahun 1990-an. Memasuki awal abad ke-21, enka kembali menjadi genre musik yang digemari setelah populernya lagu "Mago" dari Itsurō Ōizumi dan "Hakone Hachiri no Hanjirō" dari Kiyoshi Hikawa.

Daftar penyanyi enka

Penyanyi enka yang pernah memiliki lagu di peringkat pertama tangga lagu pop Oricon:




credit : wikipedia

0 komentar:

Posting Komentar

SHAMISEN (Alat musik tradisional Jepang)

Shamisen atau samisen (三味線) adalah alat musik dawai asal Jepang yang memiliki tiga senar, dan dipetik menggunakan sejenispick yang disebut bachi.
Di dunia musik Jepang abad modern (kinsei hōgaku) seperti genre jiuta dan sōkyoku (sankyoku), shamisen dikenal sebagai san-gen(三弦, 三絃, tiga senar), sedangkan di daerah Okinawa dikenal dengan sebutan sanshin (三線).

Bentuk

Badan shamisen (disebut ) dibuat dari kayu, berbentuk segiempat dengan keempat sudut yang sedikit melengkung. Bagian depan dan belakang dilapisi kulit hewan yang berfungsi memperkeras suara senar. Kulit pelapis shamisen adalah kulit bagian perut kucing betina yang belum pernah kawin. Sedangkan shamisen kualitas biasa dibuat dari kulit bagian punggung dari anjing. Shamisen yang dibuat kulit imitasi memiliki kualitas suara yang tidak bagus sehingga kurang populer.
Panjang shamisen hampir sama dengan gitar tapi leher (sao) lebih langsing dan tanpa fret. Leher shamisen ada yang terdiri dari 3 bagian agar mudah dibawa-bawa dan disimpan. Leher shamisen yang utuh dan tidak bisa dilepas-lepas disebut leher nobezao.
Sutra merupakan bahan baku senar untuk shamisen. Tsugaru-jamisen yang berasal dari daerah Tsugaru ada yang memakai senar dari serat nilon atau tetoron. Senar secara berurutan dari kiri ke kanan (dari senar yang paling tebal) disebut sebagai ichi no ito (senar pertama), ni no ito (senar kedua), dan san no ito (senar ketiga).

Jenis

Secara garis besar, shamisen terdiri dari 3 jenis berdasarkan ukuran leher: Hosozao (leher sempit), Nakazao (leher sedang), dan Futozao (leher besar). Selain itu, jenis shamisen dikelompokkan berdasarkan nama kesenian:
  • Nagauta shamisen, berleher langsing, dipetik dengan pick besar dari gading gajah, dan dipakai pada pertunjukan kabuki
  • Gidayū shamisen, berleher besar dan tebal, dan digunakan sebagai pengiring jōruri
  • Tokiwazu-bushi shamisen, berleher sedang
  • Kiyomoto shamisen, berleher sedang.
  • Jiuta shamisen, berleher sedang, dipetik dengan pick yang disebut Tsuyamabachi dari bahan gading gajah. Shamisen jenis ini sering disebut sankyoku, dimainkan bersama koto,kokyū, dan shakuhachi.
  • Shinnai shamisen, berleher sedang, dipetik dengan menggunakan kuku jari.
  • Yanagawa shamisen (Kyō-shamisen), berleher lebih langsing dari Hosozao, merupakan model shamisen yang paling tua
  • Tsugaru-jamisen, berleher lebar dan tebal, digunakan untuk lagu daerah yang disebut Tsugaru-minyō, dan dipetik menggunakan bachi yang berukuran lebih kecil dan dibuat dari tempurung kura-kura.
  • Shanshin asal Kepulauan Ryūkyū, digunakan di prefektur Okinawa dan bagian paling ujung prefektur Kagoshima. Shanshin dibuat dari kulit ular sanca asal Indonesia, leher shamisen dipernis dengan urushi, serta dipetik tidak memakai bachi, melainkan dengan pick dari tanduk kerbau.
  • Gottan, asal Prefektur Kagoshima, dibuat seluruhnya dari kayu dan tidak memakai kulit hewan.

Sejarah

Dalam penggolongan alat musik, shamisen termasuk alat musik petik serupa lute dengan leher (neck) yang disambung ke badan. Di seluruh dunia terdapat banyak sekali berjenis-jenis alat musik serupa lute, mulai dari gitarsitar, hingga ukulele. Kebudayaan Mesir kuno mengenal alat petik bersenar tiga yang di Persia berkembang menjadi setaru atau sitar ("se" berarti "tiga" dan "taru" berarti "senar"). Di Tiongkok, alat musik serupa sitar yang dibuat dengan pelapis kulit ular disebut sanshen (sanxian). Perdagangan antara Kerajaan Ryūkyū dan Fuzhou memperkenalkan alat musik sanshen yang kemudian di Okinawa disebut sanshin.
Di akhir abad ke-16, sanshin yang dibawa kapal dagang asal Ryūkyū diperkenalkan ke penduduk kota Sakai. Shamisen tertua yang masih ada sekarang adalah shamisen bernama Yodo hasil karya pengrajin di Kyoto. Shamisen ini khusus dibuat atas perintah Toyotomi Hideyoshi untuk dihadiahkan kepada sang istri Yodo-dono. Shamisen Yodo mempunyai bentuk yang tidak jauh berbeda dengan shamisen yang ada sekarang.
Perkembangan sanshin asal luar negeri menjadi shamisen tidak lepas dari peran pemusik tunanetra asal perkumpulan tunanetra Tōdōza. Sanshin yang dimainkan dengan pick berbentuk kuku dari tanduk kerbau berkembang menjadi shamisen yang dipetik dengan bachi yang digunakan untuk memetik alat musik biwa. Bunyi shamisen yang lebih garing ternyata lebih disenangi orang dibandingkan bunyi biwa yang terkesan berat dan serius.
Salah satu pemusik tunanetra bernama Ishimura Kengyō berjasa mengembangkan teknik permainan hingga shamisen digemari rakyat banyak. Di awal zaman Edo, Ishimura Kengyō mempelopori genre musik yang menggunakan shamisen dan dikenal sebagai Jiuta. Secara garis besar musik shamisen dibagi menjadi dua jenis, Utaimono (pengiring lagu) dan Katarimono (pengiring cerita).

 



Seputar alat musik SHAMISEN
Orang Jepang kerap tergetar ketika melihat bentuk SHAMISEN yang sangat indah, bahkan ada yang berkata bahwa bentuk ini terinspirasi dari bentuk tubuh wanita. SHAMISEN mempunyai 3 dawai dengan ketebalan berbeda. Dawai yang paling tebal menghasilkan suara yang paling rendah dan dawai yang paling tipis menghasilkan suara yang paling tinggi.
Di antara bagian badan dan dawai ada “KOMA” untuk menghasilkan suara SHAMISEN. Waktu memainkan SHAMISEN kita harus memegang BACHI-pemetik dawai-dengan tangan kanan, dan menyapu dawai dari arah atas ke bawah atau dari arah bawah ke atas dengan ujung BACHI sehingga mengeluarkan suara. SAO yang panjang ini adalah bagian penampang kayu (fingerboard/neck) yang dipegang oleh tangan kiri. Pada bagian SAO tidak ada tanda untuk menunjukkan posisi tempat pegangan, tidak seperti gitar yang mempunyai fret. Pemain dapat menghasilkan suara SHAMISEN yang tepat dengan mengandalkan intuisi serta pendengaran yang dihasilkan dari pengalamannya. Bagian yang dipegang untuk menghasilkan suatu nada di dalam SAO ini disebut “TSUBO” atau “KANDOKORO”. Dengan tangan kiri pemain bukan hanya menekan dawai, tetapi juga menjepit dan meluncurkan jari serta menggoyangnya untuk merubah nada. Cara lain adalah dengan mengetuk dan memetiknya.
SHAMISEN terbuat dari “KOBOKU” atau ”Red Sanders” sejenis kayu yang sangat keras berasal dari India Selatan untuk menahan kuku pemain yang mencengkeram kuat. Dawai terbuat dari sutra dan “DO” (bagian badan) dibuat dari kulit binatang. Memang hampir semua alat musik tradisional Jepang seperti SHAMISEN dibuat dari bahan-bahan alami. SHAMISEN yang dimainkan menggunakan BACHI (pemetik dawai) berasal dari “SANSHIN”, alat musik tradisional daerah OKINAWA (daerah paling selatan di Jepang) yang menggunakan kulit ular. Pada abad 16 SANSHIN sudah populer di OKINAWA dan bentuk ini berkembang menjadi SHAMISEN khas Jepang yang dikenal saat ini. SHAMISEN tidak seperti KOTO yang berawal sebagai alat musik istana,yang dimainkan oleh kalangan elit. Dari awal SHAMISEN berkembang sebagai alat musik di antara kalangan rakyat biasa.
Musik SHAMISEN memiliki berbagai genre dan ada beberapa jenis alat SHAMISEN yang ukuran dan ketebalannya berbeda. Genre musik SHAMISEN yang akan dimainkan hari ini termasuk dalam kategori “JIUTA”. Ada jenis musik SHAMISEN yang berkembang sebagai pengiring atau suara efek di teater, tetapi “JIUTA” ini berkembang sebagai musik murni yang dimainkan bersama KOTO atau SHAKUHACHI, alat musik tiup tradisional Jepang. “SANKYOKU” adalah salah satu bentuk musik “ansambel” yang dimainkan menggunakan tiga alat musik tradisional Jepang yaitu SHAMISEN, KOTO dan SHAKUHACHI. Diperlukan waktu cukup lama sampai terlahir ansambel tiga alat musik ini karena masing-masing sudah dikenal masyarakat sebagai alat musik tunggal. Namun demikian, bergabungnya tiga alat musik ini, justru menghasilkan kualitas musik yang lebih kaya dan meluas.


 
and credit to : Japan Foundation

0 komentar:

Posting Komentar